<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3427">
 <titleInfo>
  <title>Hipersemiotika</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Piliang, Yasraf Amir</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Jalasutra</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>346 halaman : ilustrasi ; 21 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Buku tentang semiotika ini dimulai dari sebuah definisi semiotika yang dikemukakan oleh Umberto Eco yang mengatakan, bahwa semiotika &quot;... pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie).&quot; Definisi Eco ini meskipun mungkin sangat mencengangkan banyak orang secara eksplisit menjelaskan betapa sentralnya konsep dusta di dalam wacana semiotika, sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri. Kenapa? Karena, semiotika sebagai satu bentuk representasi pada dasarnya adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinya sendirilah yang coba dia hadirkan. Representasi tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, namun kepada orang lain. Karena sifat dasar itulah, maka representasi sering dipermasalahkan ihwal kemampuannya untuk bisa menghadikan &quot;sesuatu&quot; di luar dirinya, karena seringkali representasi malah beralih menjadi &quot;sesuatu&quot; itu sendiri. Jurang yang terbentuk antara representasi dan yang direpresentasikan ini seringkali terlupakan oleh manusia. Nah, permasalahan &quot;tipuan&quot; seperti inilah yang menjadi landasan pembahasan tentang [hiper]semiotika dalam buku. Inilah buku yang menjadi rujukan wajib bagi para pemerhati semiotika dan cultural studies.</note>
 <note type="statement of responsibility">Yasraf Amir Piliang</note>
 <subject authority="">
  <topic>Komunikasi dalam budaya</topic>
 </subject>
 <classification>302.2</classification>
 <identifier type="isbn">979368416X</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN UHN I GUSTI BAGUS SUGRIWA DENPASAR Online Public Access Catalog</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.2 Pil-h</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">B031361/23</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pascasarjana</sublocation>
    <shelfLocator>302.2 Pil-h c.1</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>1772413._UY630_SR1200%252C630_.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3427</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-02-13 12:54:45</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-02-13 12:55:31</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>